Ketika Batas “Kita” dan “Kami” Semakin Memudar

Ada yang hampir hilang dalam percakapan sehari-hari, yaitu kata “kami”. Bukan karena kata itu semakin jarang digunakan, melainkan karena batas maknanya perlahan semakin kabur. “Kita” yang semestinya mencakup pembicara dan lawan bicara, dalam banyak percakapan justru digunakan untuk menggantikan “kami”. Batas “kita” dan “kami” kian memudar.

Gejala itu mudah ditemukan dalam percakapan di ruang publik maupun dalam tulisan media. Misalnya, seseorang mengatakan, “Sudah menjadi kelaziman dalam kelompok ini, kita saling membantu.” Secara sepintas, kalimat tersebut tidak terasa bermasalah. Namun, jika diperhatikan, siapa yang dimaksud dengan “kita”? Jika yang dimaksud adalah anggota kelompok tertentu, sementara orang yang diajak berbicara tidak termasuk di dalamnya, kata yang lebih tepat sebenarnya adalah “kami”.

Klausa “sudah menjadi kelaziman dalam kelompok ini” telah memaksa “kami” menjadi “kita”. Klausa itu juga sudah memagari bahwa “kita” di sini adalah dalam kelompok ini saja. Orang di luar kelompok ini tidak termasuk. Belum lagi, “kami” juga bisa menjadi “kita” ketika si pembicara secara nonverbal menunjuk semua yang dekat dengan drinya sebagai kita. Kalau begitu, lawan bicaranya termasuk apa. Membingungkan.

Contoh lain dapat ditemukan dalam pernyataan seperti, “Kita sudah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan persoalan ini.” Siapa yang melakukan berbagai upaya tersebut? Jika yang dimaksud adalah pemerintah, perusahaan, organisasi, atau kelompok tertentu yang diwakili pembicara, “kita” sesungguhnya sedang menjalankan fungsi “kami”.

Ketika “Kita” Menjadi Kebiasaan

Dalam bahasa Indonesia, perbedaan antara “kita” dan “kami” sebenarnya cukup jelas (Alwi dkk., 2003). “Kita” merupakan kata ganti orang pertama jamak yang bersifat inklusif: pembicara dan lawan bicara berada di dalam kelompok yang sama. Sebaliknya, “kami” bersifat eksklusif karena hanya mencakup pembicara dan kelompoknya, tidak termasuk lawan bicara.

Secara linguistik, “kita” dan “kami” memang memiliki perbedaan referensial. Namun, perbedaan yang secara linguistik sudah jelas itu semakin tipis dalam penggunaan sehari-hari. Dalam praktik berbahasa, batas tersebut tidak selalu bisa dipertahankan.

Batas kita dan kami_kutipan

Ada anggapan bahwa “kita” terdengar lebih akrab, lebih santun, dan lebih mampu membangun suasana kebersamaan. Seorang pembicara mungkin merasa lebih nyaman mengatakan “kita harus memperbaiki keadaan” daripada “kami harus memperbaiki keadaan”. Kata “kita” membuat pendengar seolah-olah diajak masuk ke dalam persoalan yang sedang dibicarakan.

Dalam komunikasi publik, kecenderungan semacam ini bahkan dapat menjadi kebiasaan. Media menggunakannya, narasumber menggunakannya, pembaca mendengarnya, lalu pengguna bahasa lain mengikutinya. Lama-kelamaan, bentuk yang semula memiliki fungsi tertentu menjadi bentuk yang dianggap biasa.

Di sinilah bahasa menarik untuk diamati. Bahasa tidak selalu berubah karena ada seseorang yang secara sengaja mengubahnya. Perubahan dapat muncul dari penggunaan berulang-ulang oleh masyarakat.

Dalam kajian linguistik, kata “kita” dan “kami” memang memiliki perbedaan referensial (Sujatna, Pamungkas, & Sujatna, 2024). Akan tetapi, dalam komunikasi nyata, makna sebuah kata juga dipengaruhi konteks penggunaannya. Artinya, bahasa tidak hanya hidup dalam kamus dan tata bahasa, tetapi juga dalam praktik sosial para penuturnya.

Batas “kita” dan “kami” kemudian tidak selalu tampak setegas yang terdapat dalam definisi linguistiknya. Bukan berarti perbedaan itu hilang, melainkan penggunaannya dalam komunikasi membuat batas tersebut semakin sering dinegosiasikan.

Yakin yang Benar:  Ke Sana Kemari Bukan ke Sana-Sini
Benarkah Lawan Kata ke Dalam Itu Keluar?
Dongeng Huruf Kapital: Dari Romawi Kuno sampai Kini

Mengapa Batas “Kita” dan “Kami” Semakin Kabur?

Salah satu penyebabnya adalah kebutuhan komunikasi untuk membangun kedekatan. Ketika pembicara menggunakan “kita”, pendengar dapat ditempatkan sebagai bagian dari kelompok yang sedang dibicarakan. Ada rasa kebersamaan yang muncul dari penggunaan kata tersebut.

Karena itu, penggunaan “kita” untuk situasi yang secara referensial sebenarnya menunjuk pada “kami” tidak selalu hadir sebagai kesalahan yang terasa janggal. Justru karena terdengar akrab dan komunikatif, bentuk tersebut dapat diterima dalam percakapan.

Penggunaan yang berulang kemudian membuatnya semakin lazim. Media menggunakannya, tokoh publik menggunakannya, masyarakat mendengarnya, dan bentuk tersebut kembali digunakan dalam komunikasi berikutnya.

Proses semacam itu memperlihatkan bagaimana kebiasaan berbahasa dapat memengaruhi cara sebuah kata digunakan tanpa harus menghapus perbedaan makna yang telah dimilikinya.

Batas kita dan kami_kutipan

Apakah penggunaan “kita” untuk menggantikan “kami” harus dianggap sebagai kesalahan?

Tidak selalu sesederhana itu. Jika konteks percakapan memang menghendaki pembicara membangun rasa kebersamaan, penggunaan “kita” dapat menjadi pilihan komunikatif. Namun, ketika yang hendak ditunjukkan adalah tindakan atau posisi kelompok pembicara yang tidak mencakup lawan bicara, “kami” tetap lebih tepat. Karena itu, kita perlu kembali memperhatikan siapa yang termasuk dalam kata “kita” dan siapa yang tidak..

Pertanyaan tersebut menjadi penting justru karena batas antara “kita” dan “kami” semakin sering terasa tipis dalam komunikasi sehari-hari. Secara linguistik, keduanya tetap berbeda. Namun, dalam praktik komunikasi, penggunaan bahasa dapat membuat perbedaan tersebut semakin tidak terasa.

Menariknya, fenomena ini justru memperlihatkan bahwa bahasa mempunyai kehidupan sendiri. Seperti dikemukakan Katamba (2006) dalam pembahasan tentang bahasa dan perubahan, bahasa berkembang melalui penggunaan yang terjadi di antara para penuturnya. Bahasa bukan benda mati yang hanya menunggu aturan dari kamus atau tata bahasa. Penutur menggunakan bahasa, mengulanginya, membiasakannya, lalu kebiasaan itu dapat berkembang menjadi pola baru.

Mungkin suatu hari batas antara “kita” dan “kami” akan semakin kabur. Namun, selama perbedaan itu masih memiliki fungsi dalam bahasa Indonesia, kita tetap perlu menyadari bahwa kedua kata tersebut tidak sepenuhnya sama. Sebab, ketika seseorang mengatakan “kita”, pertanyaan sederhananya tetap penting diajukan: Siapa yang sebenarnya termasuk di dalam “kita”?

Apakah “kita” dan “kami” memiliki perbedaan secara linguistik?
Ya. “Kita” bersifat inklusif, sedangkan “kami” bersifat eksklusif.

Mengapa batas “kita” dan “kami” semakin kabur?
Salah satunya karena “kita” sering digunakan untuk membangun rasa kebersamaan sehingga dalam praktik komunikasi dapat menggantikan fungsi “kami”.

Apakah penggunaan “kita” untuk menggantikan “kami” selalu salah?
Tidak selalu. Konteks komunikasi dapat membuat penggunaan “kita” menjadi pilihan komunikatif untuk membangun kebersamaan.

Siapa yang termasuk dalam “kita”?
Secara linguistik, “kita” mencakup pembicara dan lawan bicara. Namun konteks komunikasi dapat memengaruhi bagaimana kata tersebut dipahami.