Konstruksi Kehadiran Dedi Mulyadi Menata Jawa Barat

Dedi Mulyadi terkenal dengan aksinya yang pro-rakyat. Hal itu terjadi karena ia acap hadir di media sosial. Bagaimana media sosial mengonstruksi “Bapa Aing” ini?

OPINI – Di era digital ini membangun komunikasi kepemimpinan lewat forum resmi, konferensi pers, atau media arus utama, lambat laun akan ditinggalkan. Kini media sosial   menjadi ruang strategis seorang pemimpin bisa tampil lebih dekat, lebih personal, sekaligus lebih intens dengan rakyatnya.  Konstruksi kepemimpinan dibangun dengan basis persepsi publik.

Konten yang mempertontonkan aksi yang merakyat dan penuh empati  selalu diulang di ruang digital. Khalayak pun selalu mempersepsikan sang pemimpin sebagai sosok yang baik. Perilaku itu selalu diputar berulang. Itulah yang terjadi dengan sosok publik di Jawa Barat yang dijuluki Bapa Aing.

Sobat komunikasi, konten video yang ditayangkan Kang Dedi  bukanlah  dokumentasi biasa, ia adalah representasi yang mengarahkan cara publik memahami masalah, menyusun penilaian, hingga percaya pada gagasan bahwa pemimpin sedang bekerja dan hadir.

Konten yang menjadi fokus analisis mencakup konten video yang tayang di Instagram, YouTube, dan TikTok. Ketiga platform itu dipilih bukan karena populer, melainkan lantaran masing-masing mempunyai  karakter: Instagram kuat di visual dan citra, YouTube memberi ruang narasi panjang, sementara TikTok mengandalkan potongan momen, tempo cepat, serta sebaran yang luas.

Yang menonjol dari temuan ini ialah munculnya pola komunikasi yang dapat disebut sebagai “personal impresif”. Itu merujuk pada kemampuan pemimpin menghadirkan kesan mengagumkan melalui tindakan, ucapan, dan kehadiran yang terekam lalu disebarkan kepada publik.

Kesan itu tidak hadir begitu saja, melainkan dibangun lewat pilihan adegan, penekanan momen tertentu, serta gaya penceritaan yang mengarahkan publik untuk melihat pemimpin sebagai sosok yang bekerja di lapangan, dekat dengan warga, dan mampu memberi arah penyelesaian.

Dalam aspek definisi masalah, konten-konten yang ditampilkan cenderung menggeser infrastruktur dari sekadar pekerjaan teknis menjadi persoalan sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Jalan, fasilitas publik, kenyamanan warga, sampai rasa keadilan pembangunan tampil sebagai pengalaman konkret masyarakat. Di tahap ini, media sosial berfungsi sebagai penegas: persoalan itu nyata, dekat, dan pemimpin tahu apa yang sedang terjadi.

Kerangka pikir Dedi Mulyadi

Lalu, dalam aspek diagnosis penyebab, framing bisa menampilkan sumber persoalan dengan cara yang mengarahkan simpati publik. Hambatan anggaran, kendala birokrasi, kelalaian pihak tertentu, bahkan warisan kebijakan sebelumnya dapat muncul sebagai bagian dari narasi. Pola diagnosis seperti ini penting karena publik bukan hanya ingin tahu ada masalah, melainkan juga ingin tahu siapa yang dianggap bertanggung jawab, siapa yang terlihat bekerja, dan siapa yang seolah menjadi penghambat.

Pada unsur penilaian moral, konten media sosial mengaktifkan dimensi nilai yang mudah dipahami masyarakat. Kepedulian Dedi Mulyadi pada rakyat kecil, ketegasan pada ketidakberesan, atau keberpihakan pada kelompok yang selama ini terpinggirkan sering tampil bukan hanya lewat kata-kata, melainkan lewat gestur, ekspresi, dan pilihan visual. Di sini pesan moral bekerja lebih halus: publik menangkap kesan “tulus dan hadir” bukan sekadar dari pernyataan, melainkan dari cara pemimpin ditampilkan.

Terakhir, pada unsur penawaran solusi, media sosial menjadi ruang paling kuat untuk menunjukkan tindakan konkret. Inilah titik di mana personal impresif bekerja maksimal. Publik melihat pemimpin tidak hanya berbicara, tetapi melakukan sesuatu. Bahkan ketika hasilnya belum selesai sepenuhnya, proses kerja yang ditampilkan sudah cukup menjadi simbol kemampuan mengelola masalah.

Keseluruhan proses framing tersebut pada akhirnya membentuk kerangka pikir publik mengenai kepemimpinan Dedi Mulyadi. Persepsi tidak dibangun oleh klaim semata, melainkan oleh gabungan visualisasi aktivitas, narasi personal, dan interaksi yang berulang. Dalam komunikasi politik modern, publik sering menilai pemimpin bukan hanya dari hasil akhir, melainkan dari cara ia hadir, bergerak, dan terlihat mengelola realitas—termasuk di ruang digital.

Baca juga:
Kata-Kata adalah Wajahmu 
Cerita dan Misteri Seputar Pisang Ambon 

Leave a Comment