Kata-Kata adalah Wajahmu

MITOS BAHASA — Kesalahan memilih kata sering dianggap sepele, malah acap diiringi pembelaan, yang penting bisa dipahami.  Kenapa orang bisa seperti itu. Padahal, kesalahan pemilihan kata dampaknya bisa fatal. Tidak berlebihan kalau dibilang kata-kata adalah wajahmu.

Banyak yang berpendapat, dalam berbicara yang penting adalah tersampaikannya pesan. Tapi, saya kok tidak sependapat. Pasalnya, pesan yang disampaikan juga bisa berisi simbol mengenai diri kita.

Apa yang terjadi dengan kata-kata?

Sadar tidak, ketika berbicara sesungguhnya orang memperhatikan pilihan kata kita. Orang berusaha mengukur apakah tampilan kita sesuai dengan kata-kata yang keluar dari mulut kita.  Penampilan kita yang keren seketika hancur begitu meluncur . Bayangkan, ketika seseorang menganggap dia orang terpelajar tiba-tiba meluncur kata-kata: “Hei, lu pitnah!”

Padahal, salah satu ciri kecendekiaan adalah ketepatan memilih atau menggunakan kata. Anton Moeliono dalam buku Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Ancangan Alternatif  di Dalam Perencanaan Bahasa menyebut bahwa banyak kesalahan yang menunjukkan itu. Seorang terpelajar tidak mungkin menyebut fitnah dengan pitnah, film dengan  pilem.

Itu baru dari sisi kosa kata. Kesesuaian memilih kata dalam situasi tertentu juga dapat memperkuat kita siapa sebenarnya. Ketika  seorang dosen atau pejabat tampil rapi dan berwibawa  sedang rapat resmi, tiba-tiba meluncur: “Eh, lu jangan bacot!” Emosi yang meluap telah menelan dirinya. Orang yang mendengarnya akan beranggapan orang ini tidak bisa menjadi panutan.

Dalam berhumor kita juga harus mengukur kesantunan dan perasaan orang lain. Misalnya, ada orang yang berusaha melontarkan humor ketika bertemu  dengan keluarga temannya. Sambil melirik putri temannya, dia berkata, “Wah, Dinda lama tidak bertemu, kamu gendutan ya sekarang… kayak bakpao!”  Yang terlintas dalam pikiran orang bukan dia akrab sekali dengan putri temannya, melainkan dia sungguh orang yang jahat.  

Kesalahan pemilihan kata juga bisa menyebabkan kita salah dalam membingkai diri sendiri. Bila seorang aktivis mengaku  cinta damai, anti kekerasan, tapi saat marah dia berkata: “Gua sumpahin lu hancur!” Orang telah membingkai dirinya sendiri sebagai munafik. Katanya cinta damai, tapi suka memaki.

Kata-kata adalah dirimu

Kutipan 2_kata-kata adalah wajahmu

Sobat bahasa, saya jadi teringat, itulah yang dinamakan konsep diri. Dalam konsep ini disebutkan bahwa diri kita adalah apa yang dilihat orang.  Bukan niat yang dinilai orang, melainkan kata-kata yang terlanjur diucapkan. Jadi, jika ingin tampil baik di hadapan orang lain, pilihan kata menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Apalagi dalam bahasa lisan, kata-kata yang keluar dari mulut kita langsung membentuk persepsi mengenai diri kita, tidak bisa diralat.  

Dalam konteks ruang digital, mekanisme cermin diri ini bekerja lebih intens. Kata-kata tidak hanya diucapkan, tetapi direkam, disebarluaskan, dan disimpan dalam jangka panjang. Jejak bahasa menjadi bagian dari reputasi sosial yang sulit dihapus. Pilihan kata yang ceroboh dapat merusak citra diri, sementara bahasa yang cermat justru memperkuat identitas personal secara konsisten.

Kata-kata itu modal sosial

Kutipan 3_kata-kata adalah wajahmu

Lebih jauh, cara berbahasa juga berkait dengan modal sosial. Robert D. Putnam (2000) menjelaskan bahwa modal sosial bertumpu pada kepercayaan, norma, dan jejaring sosial yang memungkinkan kerja sama dalam kehidupan sosial. Bahasa yang santun, jujur, dan beretika berperan penting dalam membangun kepercayaan tersebut. Sebaliknya, bahasa yang agresif atau sembrono berpotensi mengikis modal sosial dan mempersempit relasi sosial.

Pada akhirnya, kata-kata bukan sekadar bunyi atau teks. Ia adalah wajah yang kita tampilkan kepada dunia. Cara kita memilih kata menentukan bagaimana kita dipersepsikan, diterima, dan dipercaya—baik dalam interaksi langsung maupun di ruang digital.

Sobat bahasa, karena kita berada dalam akuarium, seluruh perilaku kita dalam berbahasa akan langsung melekat pada benak orang yang melihat kita. Mereka melihat dan mempersepsikan kita. Memang tidak ada gading yang tak retak, namun gading yang retaknya hanya sedikit akan lebih berharga. Cermat berbahasa, cerminan diri. Salam.

Baca juga:
Benarkah Lawan Kata ke dalam Itu Keluar?
Om, Apa Kata Dasar Mengaum?

Leave a Comment