Kenapa di Harus Disambung dan Dipisah: Sejarah dan Aplikasi

Kenapa sekarang penulisan di harus disambung dan dipisah diributkan? Jangan salah, aturan penulisan di sudah dimulai sejak zaman Raja Ali Haji pada 1866.

Sedari dulu penulisan di selalu menjadi masalah. Banyak orang yang merasa soal di disambung dan dipisah tidak perlu terlalu dipersoalkan. Yang penting, orang paham. Saya sepakat, jika itu dilafalkan, misalnya dalam percakapan.

Dalam bahasa tulis, yang hanya mengandalkan huruf dalam kata-kata, dan sangat terbatas ekspresi yang diwakili dengan tanda baca, penulisan yang serampangan tentu cukup merepotkan. Di bukan sekadar  penanda bahwa kata yang terletak di depannya adalah kata kerja atau kata benda. Di  juga penanda kecendekiaan.

Kutipan 1 dari artikel kenapa di harus disambung dan pisah

Ya, penanda kecendekiaan. Penulis yang tidak bisa membedakan kapan di disambung dan dipisah, menunjukkan rendahnya tingkat literasi yang bersangkutan. Dia kurang paham bahwa di disambung dan dipisah memiliki makna yang berbeda.

Misalnya, rumahnya dibakar dan rumahnya di bakar. Ini memberi makna yang berbeda. Rumahnya dibakar = memaknai bahwa rumah miliknya dibakar; rumahnya di bakar = memiliki makna rumahnya ada di suatu tempat bernama bakar. Kata bakar dengan huruf kecil dapat dianggap sebagai salah ketik. Karena di tidak disambung bila di depannya kata benda

Sejarah di harus dipisah dan disambung

Aturan mengenai pemakaian di sebagai imbuhan atau kata depan sudah diatur dalam ejaan. Mulai dari Ejaan Van Ophuijsen,  Ejaan Soewandi, Ejaan yang Disempurnakan (EYD), hingga Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Jadi, kalau ada yang bilang, kenapa penulisan di atur-atur segala? Aturan mengenai penulisan di sudah diatur, bahkan sejak 1901. Jadi bukan sesuatu yang baru.

Waktu itu si Van Ophuijsen menerbitkan Kitab Logat Melajoe, standar resmi penulisan bahasa Melayu di Hindia Belanda. Bahkan tanda-tanda awal pemakaian di sudah dibedakan  oleh Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis (1866) di dalamnya sudah ditemukan bentuk konstruksi:

  • di dalam negeri
  • di atas tahta kerajaan
  • di beri Allah akan di
Kutipan 2 artikel di harus disambung dan dipisah

Ada kutipan yang lebih menunjukkan kesadaran untuk menulis sesuai dengan gramatikal bahasa melayu yang diyakini. Petikan dari Tuhfat al-Nafis yang menunjukkan di disambung dengan kata kerja:

  • Setelah itu maka dipanggillah segala orang Bugis dan Melayu, maka diperbuatlah musyawarah di dalam balai, serta diputuskanlah pekerjaan itu dengan mufakat

Bentuk ini bukanlah penyesuaian melainkan merupakan bentuk gramatikal pasif, yang tidak mungkin dimanipulasi. Naskah ini ditulis dalam huruf jawi (arab melayu).  Namun, pada 1857 sesungguhnya Raja Ali Haji sudah menulis Bustān al-Kātibīn. Ini bukan hikayat melainkan sebuah kertas kerja  ketatabahasaan.  

Jadi, kita bisa menyimpulkan  secara tidak langsung Van Ophuijsen sebenarnya hanya melanjutkan apa yang dicapai Raja Ali Haji. Padahal, apa yang dilakukan oleh Raja Ali Haji juga melanjutkan karya ayahnya Raja Ahmad. Kasarnya kita bisa katakan, Raja Ali Haji adalah peletak kesadaran bahasa, Van Ophuijsen sebagai perumus  sistem ejaan.

Alasan di harus disambung

Setelah episode sejarah, kita sekarang tinggal memetik buah pemikiran panjang dari Van Ophuijsen hingga EBI.  Jangan bilang, kenapa sih sekarang di pakai diatur segala, ya. Tapi, itulah sistem kebahasaan atau ejaan yang sudah dirumuskan oleh para pengawal bahasa kita.

Agar tidak bingung lagi dalam mengambil keputusan untuk menyambung di dengan kata di depannya. Ini panduannya:

  1. Membuat kata pasif, dalam hal ini di berfungsi sebagai imbuhan. Kita acap diajarkan di jika bertemu kata kerja harus disambung. Betul. Namun, alasan yang tersimpan di dalamnya adalah untuk membuat kata kerja pasif.  Jika bentuk aktifnya memukul maka bentuk pasifnya dipukul, jika memanggul menjadi dipanggul, jika menusuk menjadi ditusuk.  Dalam bahasa Inggris bentuk pasif kata kerjanya dilekati -ed. Misalnya looked, cooked, watched.

2. Pelekatan di pada kata di depannya juga bisa memberi makna berbeda. Misalnya:

  • Di rumah berbeda dengan dirumahkan
  • Di rumah berbeda dengan dirumahkan
  • di penjara beda dengan  dipenjara
  • di kubur  beda dengandikubur
  • di jalan beda dengan dijalan

3. Di dilekatkan dengan kata kerja, membuat pembaca langsung paham  bahwa yang dibacanya adalah proses bukan menunjukkan tempat.  Lihat saja tabel berikut

Bentuk PasifBentuk DasarJenis ProsesMakna ProsesBukan Makna Tempat
ditulistulisVerbal (tindakan)proses menulis oleh pelaku implisit❌ bukan “di tulis (tempat)”
dibacabacaKognitifproses membaca❌ bukan lokasi
dibakarbakarFisikproses pembakaran❌ bukan posisi
diperbaikiperbaikiFungsionalproses memperbaiki❌ bukan letak
dititahkantitahInstitusionalproses pemberian perintah❌ bukan tempat

Ada formula untuk meyakinkan diri kita bahwa di wajib disambung:

  • Jika “di + kata” bisa diberi pelaku (oleh …), itu kata kerja pasif.

Contoh

  • Ikan itu dimakan (kucing)
  • Mobil itu dibakar (oleh perampok)
  • Mobil itu dibakar (oleh perampok)

Tidak logis

  • Ikan di meja (…..)
  • Mobil  di garasi (…..)

Sudah jelas ya. Di jika bertemu dengan kata kerja harus disambung, bukan semata karena berfungsi sebagai imbuhan melainkan untuk membentuk kata kerja pasif.

Alasan di harus dipisah

Pemakaian di yang harus dipisah juga banyak disembarangi oleh pengguna bahasa dalam penulisannya. Kapan di harus ditulis terpisah?

Di ditulis terpisah jika berperan sebagai kata depan atau preposisi.  Namun apa itu kata depan. Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik menyebutkan bahwa kata depan atau preposisi itu adalah  kata yang terletak di depan benda. Lebih jelas yang disampaikan Gorys Keraf, kata depan berfungsi menghubungkan kata benda dengan kata lain dalam kalimat untuk menunjukkan hubungan tempat, waktu, sebab, dan tujuan.

Wah, makin jelas. Kata tugas di tidak perlu disambung bila di depannya kata benda. Misalnya:

  • di rumah
  • di Bandung
  • di mobil
  • di kerumunan
  • di hening malam

Dengan demikian, kita dapat mengatakan secara ringkas: di disambung bila bertemu dengan kata kerja, karena untuk keperluan pembentukan kata pasif; di dipisah bila bertemu kata benda.

Kiranya cukup sampai di sini penjelasan saya perihal pemakaian kata tugas di. Semoga apa yang disampaikan di sini dapat bermanfaat untuk kita semua. Salam.

Baca juga:

Size Doesn’t Matter: Ketika Ukuran Mengaburkan Pengertian

1 thought on “Kenapa di Harus Disambung dan Dipisah: Sejarah dan Aplikasi”

Leave a Comment