…
Ke sana kemari membawa alamat
Namun, yang kutemui bukan dirinya
Sayang, yang kuterima alamat palsu
…
MITOS BAHASA. Itu lirik lagu “Alamat Palsu” yang dinyanyikan Ayu Ting Ting. Ya, kasihan si Ting Ting diberi alamat palsu. Eit, kita tidak akan bicara soal si artis Depok itu. Yang mau kita lihat perihal dua bentuk ke sana kemari dan ke sana-sini yang bikin bingung kita semua.
Ayu Ting Ting…..eh, salah tuh. Ya, ke sana-sini bingung, ke sana kemari ragu. Mana yang benar. Dua bentuk ini sejatinya sudah sejak lama membetot perhatian kita semua. Ada yang mengatakan salah satu bentuk itu tidak benar. Wah, repot benar
Benturan ke sana kemari dan ke sana-sini
Apalagi penulisan dua bentuk ini pun bervariasi dalam penulisannya. Ke sana kemari banyak ditulis ke sana-kemari, ke sana-ke mari, dan kesana-kemari. Ke sana-sini banyak ditulis ke sana-ke sini. Padahal, hanya satu yang benar ke sana kemari dan ke sana-sini.
| Bentuk yang Benar | Bentuk yang salah |
| ke sana kemari | ke sana-ke mari |
| kesana-kemari | |
| ke sana-kemari | |
| Ke sana-sini | ke sana-ke sini |
Kenapa penulisan ke sana-kemari tidak benar? Pertama, itu bukan kata ulang berubah bunyi, kata ulang berimbuhan, ataupun kata ulang sebagian. Kata ulang berubah bunyi seperti sayur -mayur dan gerak-gerik. Kata ulang berimbuhan seperti berlari-lari dan kejar-kejaran. Kata ulang sebagian seperti lelaki dan tetangga.
Ke sana kemari menjadi benar, karena kemari bukanlah dibentuk dari ke+mari. Kemari adalah kata dasar.
Kenapa ke sana-sini bentuk yang benar? Pada bentuk ke sana-ke sini ada pengulangan kata depan. Padahal, dalam kata ulang yang diulang kata dasarnya, dan kata depan ke harus dipisah dari kata di depannya yang menunjukkan arah atau lokasi.
Di samping itu, dalam penulisan ke sana-ke sini juga membingungkan, karena yang memiliki hubungan adalah sana-ke suatu bentuk yang secara semantik susah untuk dipahami. Kalau ingin menunjukkan arah bolak-balik maka yang diberi tanda hubung kata dasar (bukan kata depan) yang menunjukkan itu: sana-sini. Bentuk yang paling benar ke sana-sini.

Benturan pendapat mengenai kebenaran bentuk ini cukup menarik. Ke sana-sini mengklaim bentuk ini paling benar. Tapi, apa iya begitu. Mari kita lihat.
Ke sana-sini dan ke sana ke mari memiliki makna yang sama yang bisa disetarakan dengan mondar-mandir. Contoh:
- Dia berjalan ke sana kemari mencari dompetnya yang terjatuh.
- Dia ke sana-sini membawa kesedihannya.
Tentu saja dua bentuk yang bersaing itu bisa digantikan dengan mondar-mandir. Namun, menurut teman-teman yang pernah belajar bahasa Indonesia, ke sana-sini adalah bentuk paling benar, keduanya menunjukkan lokasi. Mari kita lihat contoh:
- Anak itu berlari ke sana, ke tempat ibunya menunggu.
- Silakan ke sini jika memang berani.
Adapun ke sana kemari satunya partikel yang menunjukkan lokasi, satunya merupakan kata kerja. Tidak sinkron.
Lalu, selain itu, bentuk ke sana juga ada bentuk di sana, ke sini ada juga di sini. Nah, kesimpulannya bentuk ke sana-sini adalah bentuk yang benar. Soalnya, kalau mengacu ke bentuk kemari, tidak ada bentuk dimari. Memang sih ada dimari dalam bahasa Betawi. Sudah pasti bentuk yang benar adalah ke sana-sini.
Ke sana kemari adalah idiomatis
Kita selalu menyandingkan kemari dengan mari. Padahal, dua kata itu memang berbeda. Tidak ada hubungannya. Mari adalah partikel ajakan, sedangkan kemari adalah kata keterangan (verba/adverbial). Jelas, ya, mari dan kemari dua kata yang berbeda. Kalau kita menganalisis dengan cara seperti di atas: kurang tepat, bahkan salah. Ke sana kemari adalah bentuk idiomatis.
Menurut Harimurti Kridalaksana (2008:80), idiomatis adalah konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya; misalnya kambing hitam dalam bahasa Indonesia bermakna ‘orang yang dipersalahkan’. Ini senada dengan pendapatnya Jus Badudu (1985:47) bahwa idiomatis adalah Ungkapan bahasa berupa gabungan kata (frasa) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna unsur yang membentuknya.
Dengan begitu, ke sana kemari setara dengan sapu tangan, tanda mata, tangan kanan. Dengan begitu, menganalisis bentuk ini dengan analisis bahasa yang kaku tidak akan ketemu, bahkan seringkali menyesatkan. Ke sana kemari adalah ungkapan yang hidup karena kebiasaan, bukan karena masuk akal secara gramatikal.

Ungkapan seperti ini adalah produk budaya. Bentuk seperti ini sudah berproses, bisa jadi, sejak nenek moyang kita. Berbeda dengan bentuk ke sana-sini yang terbangun dari kreativitas kebahasaan modern yang menginginkan pola yang lebih rapi dan simetris.
Bisa jadi ke sana kemari sudah dipakai sejak nenek moyang kita mengenal bahasa tulis. Di sinilah letak perbedaannya: yang satu lahir dari sejarah pemakaian, yang lain dari nalar bahasa masa kini.
Bentuk ke sana kemari bahkan sudah digunakan dalam sastra lama dengan konstruksi idiomatis. Misalnya dalam Hikayat Hang Tuah (koleksi Leiden) ada kalimat:
مك برجلنله اي دالم نڬري ايتو كسانا كماري
Maka berjalanlah ia di dalam negeri itu ke sana ke mari.
Hikayat Hang Tuah itu diperkirakan ada sekitar abad 16-17. Selain itu, ungkapan tersebut juga ditemukan pada Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) pada abad 17, Hikayat Raja-raja Pasai pada abad 14. Juga disebutkan dalam hikayat pengembaraan lain, seperti hikayat perjalanan, hikayat peperangan, hikayat istana.
Nyatalah bahwa ungkapan ke sana kemari merupakan bentuk yang berasal dari tradisi lama kita. Dia sudah hidup dan digunakan secara kolektif oleh nenek moyang kita. Sebagai ungkapan, ke sana kemari adalah satu kesatuan makna. Tidak dipahami secara kata per kata.
| Aspek | ke sana ke mari | ke sana-sini |
| Asal | Asal | Asal |
| Status | Status | Status |
| Sejarah | Sejarah | Sejarah |
| Ketahanan | Ketahanan | Ketahanan |
Adapun ke sana-sini lahir dari masyarakat modern. Dia belumlah berakar pada tradisi berbahasa kita karena merupakan bentuk baru. Makna gabungan kata ini bisa dilacak kata per kata. Dia merupakan gabungan kata yang dibangun oleh logika bahasa.
Ke sana-sini dan ke sana kemari bukan dua bentuk yang setara. Jika ingin membandingkan, seperti membandingkan gabungan kata dengan peribahasa. Yang pertama lahir dari logika bahasa, yang kedua lahir dari kebiasaan budaya. Namun, keduanya bisa digunakan dalam kita berbahasa. Kedua bentuk ini adalah bentuk yang benar. Salam.
• Tri Adi Sarwoko
Penulis, asesor penulis nonfiksi BNSP, pengajar komunikasi dan bahasa
Baca juga:
Om, Apa Kata Dasar Mengaum?