Semua tahu, dong, apa itu pisang ambon. Tapi, tahu tidak, buah pisang yang satu ini bukan berasal dari Ambon. Banyak cerita dan misteri yang menyelimutinya. Silakan.
Pisang ambon, pasti tahu. Pisang ini manis dan lembut. Sudah begitu sangat mudah didapat di pasar. Wajar saja pisang ini sangat populer di Indonesia, bahkan dunia.
Pisang ambon sesungguhnya merupakan nama lokal dari Gros Michel. Buah ini sempat menguasai pasar global sebelum 1950, namun akhirnya peran itu diambil alih pisang Cavendish. Itu karena si Gros Michel terserang penyakit layu Fusarium.

Pisang ini cukup besar. Ukuran sekitar 17 cm hingga 23 cm, dengan diameternya 3,5 cm hingga 4 cm. Pisang ambon matang biasanya berwarna kuning merata dengan daging pisang berwarna putih. Bukan cuma manis, pisang ini terasa lembut di lidah.
Sudah tampilannya menawan, si pisang juga mengandung zat yang amat bermanfaat bagi tubuh yang mengonsumsinya. Ada serat dan vitamin A di dalamnya. Itu zat yang amat diperlukan bagi pencernaan kita. Lagi pula, kandungan karbohidrat pisang ini lebih banyak dua kali lipat ketimbang apel. Eh, kandungan vitamin A-nya juga lima kali lebih banyak.
Selain serat dan vitamin A, pisang juga mengandung kalium dan magnesium. Zat yang bikin tubuh tetap bugar. Ini rahasia, tapi harus disampaikan: kalium dapat menjaga agar kebutuhan pelumas pada sendi terpenuhi. Ya, begitu saja rahasia.
Langsung pokok persoalan saja, kenapa pisang ini disebut pisang ambon? Kenapa juga ada kata ambon di sini.
Cerita seputar pisang ambon
Pisang ambon terkenal enak dan harum. Dari situlah kata ambon berasal. Ada beberapa pendapat mengenai asal usul kata ambon di pisang ini. Konon, kata ambon berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti bau atau aroma, merujuk pada aroma si pisang yang khas ketika matang.
Ada juga pendapat bahwa ambon berasal dari bahasa belanda, ambonese. Kata dari bahasa Belanda itu berarti harum. Ada juga yang mengatakan bahwa kata ambon pada si pisang berasal dari kata ambun atau embun yang berarti lembut.

Bukan hanya perihal kata ambon yang melekat pada si pisang, cerita mengenai kenapa pisang ini dinamai pisang ambon pun lumayan banyak. Saya petikkan beberapa.
Ada cerita dari seorang pengajar linguistik dari universitas ternama. Dia bilang, sebutan itu terjadi, karena orang Ambon ketika merantau selalu membawa buah pisang jenis ini. Karena itu, buah pisang yang selalu mereka bawa itu dinamai pisang ambon. Pendapat pak dosen, sebagaimana disampaikan di channel youtube Trans7, sepertinya berusaha mengepas-paskan saja. Tapi, tidak masalah.
Ada lagi yang cerita yang agak berbeda. Pada masa kolonial, orang Ambon banyak yang bekerja menjadi serdadu KNIL, pelaut, atau pegawai pemerintah Hindia Belanda. Mereka itu sering membawa bekal pisang. Buah yang dibawanya itu beraroma kuat, berkulit tebal, dan tahan lama. Karena itulah orang menyebut buah itu sebagai pisang ambon.
Ternyata, konon, kata ambon berhubungan dengan label bisnis Belanda. Seperti diketahui, Belanda ke Indonesia adalah mencari rempah-rempah. Nah, pada masa kolonial itu Ambon terkenal dengan rempah-rempahnya yang bagus. Karena itu, Ambon menjadi merek atau label bisnis yang menyatakan produk yang berkualitas. Citra itu yang dilekatkan pada pisang ambon.
Bisa jadi, ada versi cerita lain mengenai penamaan pisang ambon ini. Namun, itu memang cara manusia mengatasi keterbatasan, berusaha mencari legitimasi atas pengetahuannya dengan mencari cerita atau membuat cerita yang mendukung.
Penulisan dan citra pisang ambon
Dalam penulisan pisang ambon juga sering diributkan. Mengapa Ambon ditulis dengan huruf kecil?
Ambon memang nama wilayah, namun pisang ambon tidak merujuk ke wilayah itu. Pisang jenis ini banyak ditanam di Sumatra dan Pulau Jawa. Artinya, secara diakronik sudah bisa dilacak, pisang ini memang tidak berhubungan dengan wilayah Ambon.
Satu lagi, pisang ambon adalah nama generik buah. Nama itu setara dengan pisang raja, pisang susu, pisang kepok. Tentu saja penulisannya mengikuti nama generik. Ditulis dengan huruf kecil: pisang ambon.

Banyak nama makanan atau buah di Indonesia yang menggunakan nama wilayah. Sebut saja bika ambon, soto betawi, jambu bangkok, pepaya kalifornia. Semua ditulis dengan huruf kecil karena nama generik, bukan nama wilayah. Gejala seperti ini wajar, karena sejak dulu nama wilayah juga digunakan sebagai identitas.
Penamaan dengan mengambil nama geografis tertentu secara semantis disebut toponimi. Istilah ini mengacu pelekatan nama wilayah pada nama makanan atau benda lainnya. Bisa kita sebut kunci inggris, ayam bangkok, garam Inggris. Namun, referensi dari penamaan ini bukanlah wilayah geografis melainkan citra dari kata tersebut.
Pisang ambon bukan mengacu ke wilayah Ambon di Maluku sana melainkan pada citranya. Pada cerita di atas sudah disebutkan Ambon mengandung citra kualitas terbaik. Begitupun dengan kunci inggris, kata inggris merujuk pada citra hebat teknologinya bukan negaranya, bisa jadi diyakini kunci itu berkualitas baik.
Bisa jadi masih banyak persoalan yang bisa dibahas mengenai pisang yang sangat populer ini. Tapi, apapun, pisang tetaplah buah yang memiliki kandungan yang baik untuk tubuh kita. Semoga apa yang kita bahas bermanfaat. Salam.
• Tri Adi Sarwoko
Penulis, asesor penulis nonfiksi, dan pengajar bahasa dan komunikasi
Baca juga:
Baru tahu kalau pisang ambon cara nulisnya begitu.