Bikin Joke, Enggak Selalu Bikin Orang Tertawa

Apa yang bikin kesal? Sudah susah payah bikin joke tapi orang tidak tertawa sama sekali, bahkan senyum pun tidak. Padahal, joke harusnya bikin tertawa. Memang susah bikin joke.

Yang membuat sebuah joke atau lelucon menjadi sangat berharga adalah kesegarannya. Seperti sebuah roti, tentu lebih enak roti yang fresh from the oven ketimbang roti lama yang dihangatkan. Dengan begitu, seorang komedian atau pelontar joke dituntut selalu melontarkan joke-joke baru. Pengulangan lelucon, apalagi yang sudah lawas, sama saja dengan bunuh diri.

Kalau tidak bisa bikin lelucon, bagaimana? Kita bisa rekondisi lelucon lama. Tapi, tetap saja kudu hati-hati. Seperti dikatakan di atas, kemampuan sebuah lelucon meledakkan tawa sangat tergantung pada kesegarannya. Kendati juga ada faktor lain, yaitu bagaimana si pelontar pemicu tawa itu membawakannya. Mari kita ambil sebuah pantun lucu lawas yang sudah sangat terkenal seperti:

  • Jaka Sembung megang kebo
  • Enggak nyambung bo

Pantun pendek seperti ini mungkin saja masih punya tenaga untuk membuat seorang tersenyum, bagi orang yang belum mendengarnya. Tapi, karena ini sangat populer, sangat sulit untuk membuat orang tertawa. Joke basi. Pasalnya, kalau kita membuat pantun dengan kata Jaka Sembung sudah langsung terasosiasi dengan kata nyambung di benak orang yang mendengarnya. Tapi, coba kita bikin seperti ini:

  • Jaka Sembung megang kebo
  • Ntar melembung bo
  • Jaka Sembung megang kebo
  • Ntar kembung bo
  • Jaka Sembung megang kebo
  • Ah, kamu memang bego

Atau, mari kita bikin yang baru seperti:

  • Cewek bohai makan sekoteng
  • Hai, gue udah dateng
  • Sakit mata dikasih cuka
  • Orang pelit masuk neraka
kutipan artikel bikin joke

Tapi, biar lebih aman buatlah si pemicu tawa itu sendiri. Yang harus dipahami, sebuah joke tidak harus pantun. Sebuah lelucon yang paling penting adalah ketidaknyambungan, menurut saya lo, antara satu pernyataan dengan pernyataan lain. Semakin tidak nyambung, semakin lucu. Apa benar?

Kesegaran sebuah joke dalam pentas komedi, menurut catatan saya dalam buku Sukses Melawak: Cara Jitu Mempersiapkan Kreatif Komedi hingga Performance, amat bergantung pada spontanitas dari si pelontar lelucon itu sendiri. Selain itu, juga harus mempertimbangkan audiens yang hadir saat itu. Namun, semua itu bisa dikondisikan oleh sebuah pemicu tawa yang telah mempertimbangkan seluruh unsur yang dapat meledakkan tawa.

Kenapa dengan joke lawas?

Joke lawas kurang tenaga untuk membuat tawa. Kenapa? Karena unsur kejut kurang. Arthur Schopenhauer bilang, humor terjadi ketika ketika dua kerangka pemikiran yang tidak cocok dipaksakan untuk bertemu, sehingga terjadi kontradiksi yang lucu. Masih seirama dengan Schopenhauer, pada generasi yang lebih muda, Victor Raskin, mengatakan bahwa kelucuan terjadi karena adanya dua skrip yang saling bertentangan disatukan.

“kelucuan terjadi karena adanya dua skrip yang saling bertentangan disatukan. Victor Raskin

Saya berusaha memberi contoh. Jika kita menunggu teman yang memang dari jauh tidak juga datang padahal sudah waktunya sesuai dengan janji. Ketika ada teman yang menanyakan, “kenapa dia tidak datang juga padahal katanya naik pesawat” , tentu jawaban yang diharapkan adalah “mungkin delay”, “mungkin ada keperluan lain”, tapi bagaimana jika ada yang nyeletuk, “dia tidak datang juga karena naik pesawat radio”.

Nah, efek kejut seperti itu yang membuat sebuah lelucon jadi punya tenaga. Bagaimana dengan joke lawas? Efek kejutnya sudah hilang, karena orang sudah sering mendengar. Rekondisi lelucon mungkin bisa menggiring tawa, namun sangat berisiko. Sebaiknya bikin yang baru yang lebih bertenaga. Ciptakan dua skrip yang saling bertentang namun masih dalam satu bahasan.

Agar pemicu tawa bertenaga, kita bisa melihat teori Benign Violation. Teori itu bilang, lucu itu ketika terjadi pelanggaran norma, pelanggaran itu tidak berbahaya, terjadi secara bersamaan. Misalnya, ketika orang terpeleset dan terguling-guling, orang akan tertawa karena orang itu hanya terguling, tidak berbahaya. Coba, jika orang terpeleset lalu jatuh ke jurang, tidak akan tertawa.

Banyak teori humor yang bisa menjelaskan fenomena lucu, tapi setiap kelucuan pasti memiliki polanya sendiri. Terkadang suatu joke bisa lucu dibawakan di sana, tapi tidak lucu di sini. Terkadang pemicu tawa bisa lucu dibawakan oleh orang lain, tapi tidak lucu dibawakan sendiri. Banyak yang harus dipertimbangkan untuk bikin joke. Salam.

Baca juga:

Leave a Comment