Banyak yang bingung apa benar lawan kata ke dalam itu keluar. Lalu bagaimana penulisan yang benar: ke dalam atau kedalam. Silakan simak kebenarannya.

TEMAN SAYA menanyakan benarkan lawan kata ke dalam adalah keluar. Dia bertanya dengan sungguh-sungguh. Saya jawab, salah. Lawan kata ke dalam bukan keluar. Persoalan ini memang selalu menjadi bahan pertanyaan. Malah, semakin parah ketika ke dalam ditulis kedalam karena beranalogi dengan bentuk keluar.
Karena hal ini, ada yang mengambil kesimpulan bahasa Indonesia tidak lengkap. Ini benar-benar tidak paham. Bronisław Malinowski pernah menyatakan bahwa setiap bahasa sudah lengkap untuk penuturnya. Kalaupun teman saya merasa tidak lengkap, bisa jadi salah dalam memahaminya.
Mari kita luruskan. Apa yang disampaikan teman saya itu, bisa jadi berdasarkan data yang diperoleh dalam percakapan. Perlu diketahui, dalam pelafalan tentu tidak bisa dibedakan keluar dan ke luar. Inilah yang lantas menjadi mitos bahasa bahwa keluar dan ke luar sama saja.
Apa lawan kata ke dalam?
Kita sering mendengar percakapan ini. Ada pertanyaan: Apa lawan kata ke dalam? Dijawab ke luar. Lalu lawan kata masuk apa? Keluar. Lalu si penanya itu menyimpulkan bahwa bahasa Indonesia tidak lengkap masa tidak punya lawan kata masuk. Kalau lawan kata ke dalam adalah keluar, masa lawan kata masuk sama juga.
Persoalan ini tentu saja mempengaruhi cara kita dalam berbahasa tulis. Teman saya mencibir, tidak percaya. Ya, sudah memang sulit untuk membuat orang percaya hanya dengan berkata.

Tapi, yang perlu diingat jika kita bersandar hanya pada bahasa lisan, pasti cenderung banyak salah. Bahasa lisan itu amat permisif alias membolehkan apa saja. Selain juga bersifat pragmatik, mau pakai apa pun yang penting bisa dipahami.
Tidak demikian dengan bahasa tulis. Kita sebut saja dalam bahasa jurnalistik, bahasa ilmiah, butuh ketepatan makna. Bukan sekadar benar salah, melainkan ketepatan makna. Bahkan, bila perlu dilacak sampai ke lapisan makna yang tepat. Misalnya:
- Anak itu hanya meringis ketika saya memukulnya.
Memukul masih kata umum di bawahnya (hiponim) masih ada kata menjitak dan meninju. Jika melihat kalimat itu tentu saja pilihan kata yang tepat bukan meninju melainkan menjitak, karena ekspresi si anak yang hanya meringis. Artinya, pukulan yang ringan yaitu menjitak. Kalimat itu mestinya berbunyi:
- Anak itu hanya meringis ketika saya menjitaknya.
Lumayan, teman saya mulai mengangguk. Kita kembali ke bahasan kita mengenai lawan kata ke dalam itu keluar. Nah, dalam menjawab persoalan ini kita perlu melakukan perbandingan secara apel to apel.
Inilah lawan kata ke dalam yang benar
Mengapa kita perlu membandingkan dengan bentuk yang sama? Karena dari situlah kita dapat menemukan oposisi yang benar dari frasa preposisional ke dalam. Frasa ini menunjukkan arah atau bisa juga lokasi. Misalnya:
- Riri berjalan ke dalam kelas
- Udin melompat ke dalam
Pada kalimat Riri berjalan ke dalam kelas, sudah jelas itu adalah frasa preposisional yang menunjukkan arah. Pada kalimat Udin melompat ke dalam, jelas menunjukkan lokasi.

Nah, kita punya dua calon pasangan ke dalam yaitu: keluar dan ke luar. Sama seperti ke dalam kita bisa melacak mana lawan kata ke dalam. Mudahnya, penulisan ke dalam sendiri sudah menunjukkan mana lawan katanya. Ya, tepat, pasti lawan katanya ke luar. Kita lihat pemakaiannya dalam kalimat.
- Dia melangkah ke luar
- Riri melompat ke luar jendela
Kita sudah menemukan lawan dari frasa preposisional dan penunjuk lokasi tentunya frasa yang sama. Dengan demikian lawan kata ke dalam adalah ke luar. Lalu bagaimana dengan keluar?
Teman saya tersadar dari lamunannya, langsung bilang, ya itu belum. Saya hanya menepuk pundaknya, ya sudah melamun lagi saja. Saya mau menjelaskan kata keluar. Kata ini adalah kata kerja jadi berbeda dengan ke luar yang frasa preposisional.
Sangatlah tidak mungkin lawan kata ke dalam adalah keluar. Keduanya berbeda kelas kata dan tidak mungkin beroposisi. Lawan kata keluar yang tepat haruslah sejenis yaitu kata kerja. Lawan kata keluar adalah masuk, yang juga kata kerja. Kata kerja menyatakan proses atau tindakan.
Untuk jelasnya bisa dilihat pada tabel berikut:
| Aspek | ke dalam | ke luar | keluar | masuk |
| Kelas kata | frasa preposisional | frasa preposisional | kata kerja | kata kerja |
| Unsur pembentuk | ke + dalam | ke + dalam | Bentuk dasar verba | Bentuk dasar verba |
| Fungsi utama | Menyatakan arah/lokasi | Menyatakan arah/lokasi | Menyatakan tindakan | Menyatakan tindakan |
Kalau di atas dinyatakan lawan kata ke dalam bisa keluar bisa juga ke luar, itu tidak benar. Kita telah menemukan jawaban. Lawan kata ke dalam adalah ke luar; lawan kata keluar adalah masuk.
- ke dalam >< ke luar
- keluar >< masuk
Karena masuk dan keluar kata kerja alias verba, kedua kata ini bisa menjadi predikat. Misalnya: Riri keluar dari persembunyian. Ke dalam dan ke luar bukan kata kerja melainkan frasa preposisional yang menunjukkan arah atau lokasi maka tidak bisa menjadi predikat melainkan hanya keterangan arah. Misalnya: Riri berlari ke luar rumah ketika kebakaran.
Berbahasa yang baik itu perlu kecermatan dan logika yang benar. Kesalahan dalam penulisan bisa berakibat fatal. Sampai jumpa pada mitos bahasa berikutnya. Eh, hampir lupa, saya tepuk pundak teman saya dulu biar tidak keterusan melamun. Salam.
• Tri Adi Sarwoko
Penulis, asesor penulis nonfiksi, dan pengajar bahasa dan komunikasi
Baca juga:
Mantap Pak Adi. Baru ngeh kalau lawan kata ke dalam itu ke luar, dan lawan kata masuk itu keluar. Mencerahkan tulisannya.