Akurasi Bahasa Jurnalistik Bukan Sekadar Gaya-gayaan

Misalnya, seorang reporter melaporkan peristiwa banjir di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Sambil mengenakan jas hujan, reporter yang ayu itu melaporkan di tengah gerimis. “Banjir di Kampung Melayu meninggalkan tanah berlumpur yang cukup menggelikan”.

kutipan 1_akurasibahasa

Wow, saya terpesona oleh kecantikannya, tapi bingung dengan kata-katanya.  Menggelikan itu maksud bagaimana? Membuat orang tertawa karena geli atau bagaimana. Untungnya, ini adalah laporan di televisi, sehingga bisa terlihat jelas gambar tanah berlumpur, dan gestur tubuh di reporter. Dari gestur si mbak reporter, saya menangkap yang dimaksud adalah jijik. Coba kalau itu disampaikan dalam media digital, pasti cukup bikin kening berkerut.

Sobat komunikasi, dalam komunikasi tertulis tidak bisa kita hanya mengandalkan ungkapan “yang penting pembaca mengerti”, kecermatan dalam memilih kata membuat berita yang kita tulis menjadi  berkelas. Mungkin pilihan kata akan membuat kalimat menjadi berbunga-bunga, tapi sayang kalau akurasi dikorbankan.

Ketika bahasa jurnalistik mengaburkan fakta

Keakuratan kata yang dipilih dalam kalimat sangat menentukan kualitas pesan yang disampaikan. Dalam praktik jurnalistik, akurasi  bukan sekadar soal keindahan bahasa, melainkan soal tanggung jawab makna. Gorys Keraf (2009) menegaskan, ketepatan diksi berkait langsung dengan kesanggupan kata menghadirkan gagasan secara cermat dan tidak menyimpang dari maksud penulis.

Akurasi bahasa jurnalistik menuntut kita harus memilih kata dengan cermat. Seorang wartawan senior pernah mengatakan, “kuasai kosakata sebanyak-banyaknya”. Dengan banyak pilihan, penulis dapat menentukan kata yang paling tepat, bukan sekadar yang paling mudah dan indah.

kutpan 2_akurasibahasa

Yang perlu dipahami, setiap kata itu memiliki makna yang unik, meskipun kata itu bersinonim.  Menurut (Cruse, 1986), setiap kata menyimpan nuansa tertentu. Setiap kata membawa konteks, daya emotif, bahkan implikasi ideologis tertentu. Salah satu  cara berpikir yang dapat membantu adalah pendekatan hiponimi sebagaimana dijelaskan oleh Cruse.

Dalam relasi hiponimi, suatu kata umum (superordinat) membawahkan kata-kata lain yang lebih spesifik (hiponim). Kata bawahan umumnya memiliki cakupan makna yang lebih sempit, tetapi justru karena itu lebih akurat. Dalam linguistik Indonesia, relasi makna seperti ini juga dibahas sebagai bagian dari medan makna dan struktur leksikal (Kridalaksana, 2007).

Dengan demikian, akurasi bahasa bukan sekadar pilihan stilistika, melainkan pilihan bagaimana bahasa merepresentasikan realitas secara cermat.

Baca juga:
Bahasa Jurnalistik di Era Digital
Kata Penat dalam Jurnalistik Digital: Frasa yang Bikin Bertele-tele

Akurasi bahasa adalah etika profesi

Ambil contoh kata keluar. Kata ini bersifat umum dan netral. Namun, di bawahnya terdapat sejumlah kata yang lebih spesifik: menyeruak, menyembul, merekah, menonjol. Ketika kita menulis, “Cacing keluar dari dalam tanah,” kalimat tersebut benar secara gramatikal. Akan tetapi, apakah ia sudah cukup akurat? Kata keluar tidak memberi gambaran bagaimana proses itu terjadi.

Bandingkan dengan kalimat: “Cacing menyeruak dari dalam tanah.” Kata menyeruak menghadirkan kesan gerakan yang lebih kuat, seolah ada dorongan dari bawah yang menembus permukaan. Daya imajinya lebih hidup. Keraf (2009) menyebut bahwa pilihan kata yang tepat akan memperkuat daya sugesti bahasa dan mencegah kekaburan makna.

Contoh lain dapat dilihat pada kata membunuh. Dalam teks berita tertentu, terutama yang menuntut ketelitian fakta, kata ini bisa dianggap terlalu umum. Ia tidak menjelaskan cara atau proses. Padahal, dalam jurnalisme, detail acap menentukan pemahaman pembaca. Kata membunuh membawahkan sejumlah hiponim: menusuk, menikam, menembak, menggantung, mengubur, mencekik.

kutipan 3_akurasibahasa

Kalimat “Ayah membunuh anaknya” memang menyampaikan inti peristiwa. Namun, “Ayah menikam anaknya” menghadirkan gambaran yang lebih konkret. Akurasi di sini bukan sekadar soal estetika bahasa, melainkan soal akurasi informasi.

Hal yang sama berlaku pada kata melihat. Kata ini sangat umum. Padahal, kita memiliki pilihan seperti memandang, memperhatikan, meninjau, memeriksa, mengawasi, menyelidiki, mengamati, atau menonton.

Seorang dokter tidak sekadar “melihat” pasien; ia memeriksa. Seorang peneliti tidak hanya “melihat” fenomena; ia mengamati. Seorang aparat tidak hanya “melihat” situasi; ia mengawasi. Perbedaan ini menunjukkan pembatasan makna yang membuat setiap kata memiliki distribusi konteks tertentu (Cruse, 1986).

Begitu pula dengan kata sirna yang memiliki turunan seperti lenyap, hilang, pudar, musnah, dan gaib. Atau kata ujar yang membawahkan kata-kata seperti tegas, tukas, sergah, sanggah, gerutu, gertak, dan tampik. Dalam penulisan dialog, pilihan kata pengiring ujaran sangat menentukan karakter tokoh dan suasana adegan.

Akurasi bahasa jurnalistik adalah fondasi kejelasan, ketepatan, dan kredibilitas tulisan. Dalam konteks jurnalistik, akurasi menjaga dan menghindari kesalahpahaman; dalam konteks sastra, presisi memperkuat daya imaji dan emosi.

Akhirnya, penguasaan kosakata bukanlah pameran kebahasaan, melainkan instrumen berpikir. Semakin kaya pilihan kata yang kita miliki, semakin tajam kemampuan kita membedakan nuansa makna. Dan semakin akurat kata yang kita pilih, semakin tepat pula kenyataan yang kita gambarkan.

Akurasi bahasa bukan hanya memperjelas makna pesan yang disampaikan, melainkan ada harga diri yang juga dipertaruhkan di sana. Salam.

• Unduh versi akademis

Leave a Comment