Jangan kaget ya, ketika kita lama bergaul dengan teman baru kita yang asyik, tiba-tiba gaya bicara kita sama. Penyakit nih. Bukan ini hanya bukti bahwa gaya bicara bisa menular.
Pernah mengalami tidak, setelah beberapa minggu nongkrong dengan teman baru, tiba-tiba cara kita tertawa seperti teman baru kita itu. Atau mendadak tanpa terduga meluncur kosakata asing yang sebelumnya tidak pernah kita ucapkan. Wah, kita seperti orang asing di tubuh kita sendiri ketika mendengar gaya bicara seperti itu. Seram.
Entengnya, kalau kita nongkrong dengan anak-anak Jakarta Selatan (Jaksel) dengan entengnya keluar kata “literally” dan “which is” . Bisa jadi gaya bicara seperti itu , berawal dari kebiasaan satu orang, lalu menulari satu komunitas. Wow, dari sini kita bisa bilang bahwa bahasa ternyata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan virus sosial yang supermenular.
Fenomena yang sama terjadi di dunia digital; satu kreator konten mempopulerkan frasa baru. Dalam hitungan hari, seluruh linimasa internet menggunakan kata yang sama. Masih ingat dengan viralnya kata “A..siap!”.
Virus ini tidak sampai membunuh manusia, tapi “bahaya”. Penularan virus ini bukan cuma terjadi di tempat nongkrong, melainkan juga di tempat kerja. Di kantor, jika bos kita berbicara dengan gaya bicara yang tegas dan formal, pilihan katanya pun khas, perlahan tapi pasti para pegawai akan mengadopsi struktur kalimat yang mirip saat membalas e–mail atau berbicara di rapat.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Rahasianya ada pada dorongan alami manusia untuk mencari rasa aman dan kedekatan melalui proses penyesuaian gaya verbal atau yang dikenal sebagai konvergensi komunikasi (Giles, 2016). Saat kita berbicara dengan seseorang, otak kita otomatis akan bekerja seperti cermin. Menyelaraskan frekuensi, menyamakan intonasi, dan meminjam pilihan kata lawan bicara kita untuk mengurangi jarak sosial.
Mengapa menular?
Ketika kita mulai menyelipkan istilah sesuai dengan gaya bicara mereka, kita sedang membangun jembatan psikologis. Kesamaan verbal ini menciptakan kenyamanan instan, seolah-olah kita sedang berbisik, “Hei, lihat, gua kita bisa berteman. Nih cara ngomongnya sudah sama.” Jembatan emosional inilah yang meruntuhkan kecanggungan dalam waktu singkat.

Namun, penularan ini punya level yang lebih dalam lagi, yaitu soal kepemilikan dan penegasan identitas kelompok. Gaya bicara adalah “seragam” tanpa kain. Ketika sekelompok orang kompak menggunakan cara berkomunikasi yang khas, mereka sebenarnya sedang membangun benteng pemisah antara “kelompok kita” (in-group) dan “orang luar” (out-group).
Menurut studi psikologi sosial mengenai identitas kelompok, manusia secara alamiah membutuhkan rasa keberartian positif dari lingkaran sosial tempat mereka bernaung (Tajfel & Turner, 1986). Menggunakan bahasa kelompok yang sama membuat kita merasa sah menjadi bagian dari mereka. Kita meniru bukan karena kehilangan kepribadian, melainkan karena ingin diakui, aman, dan memiliki ruang di dalam lingkaran tersebut.
Sisi lain sang virus bahasa
Meski meniru gaya bicara bisa merekatkan hubungan, fenomena ini bagai pisau bermata dua. Terlalu kuat melebur dalam gaya komunikasi kelompok terkadang membuat kita kehilangan keunikan komunikasi personal. Kita menjadi seragam dan terjebak dalam arus tren verbal yang belum tentu mencerminkan nilai diri kita yang sebenarnya.

Lebih jauh lagi, penegasan identitas lewat cara bicara ini berisiko menciptakan polarisasi sosial. Ketika gaya bicara anak Jaksel, gaya formal korporat, atau istilah-istilah komunitas tertentu terlalu dieksklusifkan, orang luar yang tidak menggunakan gaya tersebut akan langsung dicap “bukan bagian dari kita”. Bahasa yang awalnya berfungsi sebagai jembatan untuk mendekatkan, dalam sekejap bisa berubah menjadi dinding tebal yang mengotak-ngotakkan masyarakat.
Pada akhirnya, menularnya gaya komunikasi adalah bukti nyata bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Cara kita berbicara adalah cerminan dengan siapa kita menghabiskan waktu. Jadi, perhatikan baik-baik kata-kata yang sering kita ucapkan hari ini—bisa jadi itu bukan murni suara kita sendiri, melainkan gema identitas dari orang-orang di sekitar kita. Jadi, bukan lagi mulutmu harimaumu, melainkan harimau akan memakanmu bila tidak bijak berkata-kata. Kata bukan sekadar bunyi yang diucapkan, di dalamnya ada identitas dirimu, siapa kawan-kawanmu, dari mana kamu berasal.
Baca juga:
Akurasi Bahasa Jurnalistik Bukan sekadar Gaya-gayaan
Judul Sebagai Berita Terpendek