Rasisme terhadap Huruf Kapital

Pemakaian huruf kapital masih saja salah, padahal aturannya sudah ada. Kalau tahu alasannya kenapa harus memakai huruf besar pasti tidak bakal melupakan si kapital.

MITOS BAHASA – Wow, judulnya seram benar: rasisme terhadap huruf kapital.  Jangan takut, ini bicara soal pemakaian huruf kapital atau besar yang diremehkan.  Aturan penggunaannya sudah jelas, namun banyak yang memakai dengan tidak benar.

Dulu huruf kapital dipakai dengan sangat dominan pada masa Romawi kuno. Semua tulisan dikapitalisasi tanpa spasi. Huruf kecil, sori ya, belum lahir. Sialnya, ketika huruf kecil lahir (minuscule), peran si kapital hanya sebagai hiasan di awal wacana. Sedih benar.

Memang, setelah itu, ketika mesin cetak ditemukan, peran si kapital mendapat porsi yang lebih baik. Bukan hanya sebagai hiasan melainkan mulai bisa memberi makna gramatikal. Huruf yang pernah mendominasi ini mulai dipakai di awal kalimat dan sebagai identitas.  Tapi, orang tetap saja berbuat seenaknya terhadap si kapital. Kasihan huruf yang satu ini.

Pelecehan terhadap huruf kapital

Salah satu pelecehan adalah yang dikatakan Riri, si bocil ekor kuda.  Bocah ini bilang, tokoh kita ini (kapital) bikin ribet, tanpa ada dia pun kita masih bisa membaca pesan dari kalimat dengan baik.  

Pemakaian huruf kapital memang penuh dengan drama. Ada yang bilang aturan huruf ini membingungkan. Saking bingungnya, ada media massa yang menulis judul berita yang hurufnya kapital semua, sehingga terbebas dari kewajiban untuk menulis dengan huruf kecil pada jenis kata tertentu. Ada pula yang menulis judul dalam bentuk kalimat sehingga terbebas dari kewajiban untuk  menulis dengan huruf kecil pada kata tertentu.

Kutipan 1 rasisme terhadap huruf kapital

Ucapan Riri bahwa tanpa huruf besar pun sudah bisa memahami pesan dalam kalimat, ada benarnya. Kita lihat contoh berikut:

  • semua orang berlari menghindar ketika terjadi kebakaran
  • yang tidak membayar tidak boleh masuk.

Namun, ucapan Riri menjadi tidak benar dalam kalimat berikut:

  • dia menemukan anak pita, yang kemarin hilang
  • kami semua akan bertemu Minggu depan

Pada dua kalimat di atas terasa sekali diperlukan kehadiran si kapital agar pembaca langsung menangkap pesan yang disampaikan dalam kalimat. Pada kalimat dia menemukan anak pita, yang kemarin hilang,  orang memahami bahwa dia menemukan sepotong pita yang kemarin hilang. Bila maksud penulis dalam kalimat itu ingin menyatakan bahwa menemukan anak dari seseorang yang bernama Pita yang kemarin hilang.  Kalimat itu harus berbunyi  dia menemukan anak Pita, yang kemarin hilang.

Begitu pula dengan  kalimat kami semua akan bertemu Minggu depan. Maknanya, kami akan bertemu pada hari Minggu depan. Minggu dengan huruf awal besar menyatakan nama hari.  Jika si penulis sesungguhnya ingin menulis bahwa kami akan bertemu dengan hari yang belum ditentukan, harus ditulis kami semua akan bertemu minggu depan. Minggu dengan huruf kecil menyatakan pertemuan akan diadakan pekan depan dengan hari yang belum ditentukan.

Ini merupakan bukti bahwa huruf yang dirasisi sesungguhnya memiliki peran penting.

Kenapa harus huruf kapital?

Huruf kapital bukan hanya urusan aturan, melainkan memiliki makna sendiri yang terkadang kurang kita pahami. Sayangnya, karena tidak paham lantas orang menulis semaunya, toh, tanpa huruf besar pun bisa dimengerti.

Sobat bahasa, terpaksa saya membandingkan dengan bahasa lisan lagi. Dalam bahasa lisan kita secara otomatis paham apa yang dibicarakan, tidak perlu menjelaskan ini nama ini bukan nama, karena sudah terbantu dengan alat bantu nonverbal, seperti durasi, dialek, ekspresi.

Kutipan 2 artikel Rasisme terhadap huruf kapital

Jadi, benar tidak memerlukan si kapital. Tapi, dalam bahasa tulis, alat bantu nonverbal itu tidak ada. Huruf yang dirasisi ini adalah alat bantu yang mengisi sisi nonverbal dalam bahasa tulis.  Inilah beberapa alasan konseptual kenapa kita harus memakai huruf yang satu ini.

Huruf kapital bisa berfungsi sebagai penanda keunikan (properness).  Huruf kecil mengisi kategori umum, si kapital mengisi yang lebih spesifik. Misalnya dalam kalimat berikut:

  • Semua orang memilih presiden secara langsung.
  • Semua orang wajib menghormati Presiden.

Dari contoh ini saja kita bisa tahu presiden dengan huruf kecil adalah kategori umum, status presiden itu sama dengan kata lainnya. Tapi, pada kalimat kedua, presiden dengan huruf pertama besar menunjukkan presiden sebagai lembaga. Huruf kapital berfungsi sebagai penanda identitas juga.

Huruf besar sebagai penanda penalaran.  Meskipun sejatinya huruf kapital juga bisa menunjukkan identitas dari sebuah entitas, huruf yang pernah menjadi dominan di masa lalu itu sebenarnya juga berfungsi sebagai alat penalaran.  Si kapital membantu pembaca memilah informasi, mengenali status kata, membangun struktur kognitif ketika orang membaca.  Misalnya:

  • banyak orang menyambut kedatangan wapres gibran. selain sidak, gibran bertemu juga dengan kepala desa cianjur.

Ketika membaca ini, orang menerka-nerka wapres Gibran sebenarnya apa, nama atau benda. Juga dengan kepala desa cianjur. Si pembaca harus berpikir dulu ketika membaca kalimat itu.  Struktur kognitifnya berat. Berbeda, kalau kalimat itu sudah dilengkapi dengan huruf besar.

  • Banyak orang menyambut kedatangan Wapres Gibran. Selain sidak, Gibran bertemu juga dengan Kepala Desa Cianjur.

Kalimat yang sudah diberi huruf besar menjadi  jelas struktur kognitifnya, tidak membingungkan. Secara visual pun orang sudah paham. Wapres Gibran adalah nama pejabat, Kepala Desa Cianjur adalah jabatan. Juga terlihat ada dua kalimat. Setiap kalimat mengandung ide atau peristiwa baru.

Huruf besar sebagai jangkar visual.  Penelitian keterbacaan menyebutkan bahwa sesungguhnya  pembaca  itu memindai kalimat dan huruf kapital sebagai jangkar. Dari pindaian itu pembaca mendeteksi awal kalimat, nama penting, dan struktur kalimat.

Dengan begitu, pemakaian huruf besar jika digunakan dengan benar, dapat menaikkan tingkat keterbacaan.  Orang akan senang membaca tulisan kita.

Inilah pemakaian huruf kapital

kutipan 3 rasisme terhadap huruf kapital

Sudah jelas ya, kenapa kita harus memakai huruf kapital. Pemakaian huruf besar sudah di atur dalam EYD. Betul, EYD ya bukan PUEBI, karena sejak 16 Agustus 2022 PUEBI sudah diganti  dengan EYD (Edisi Kelima). Dalam aturan itu disebutkan ada 23 butir perihal pemakaian huruf besar.

Namun, yang sudah jelas adalah huruf kapital digunakan pada huruf pertama pada kata pertama kalimat, nama diri, nama hari, nama bulan, nama geografis, judul buku, nama media massa, sapaan.

  • Dia memanggil anak sulung yang bernama Dani
  • Pada hari Jumat dia tidak mau melakukan pekerjaan apapun.
  • Di tepian Sungai Ciliwung dia menemukan  buku Siti Nurbaya.
  • Dia tidak menyangka tulisannya berhasil dimuat di harian Kompas.
  • Ke sini dulu, Bro. Kita  bicara persoalan kemarin.

Kendati aturan sudah, kesalahan tetap saja terjadi. Berikut beberapa kesalahan pemakaian huruf besar yang paling sering terjadi. Misalnya:

SalahBenarPenjelasan
Besok Presiden akan berpidato.Besok presiden akan berpidato.Huruf besar dipakai jika jabatan + nama diri: Presiden Prabowo
Saya suka Bahasa IndonesiaSaya suka bahasa IndonesiaKapital hanya pada nama bahasa, bukan mata pelajarannya.
Mereka memanfaatkan Gajah untuk mengangkat kayuMereka memanfaatkan gajah untuk mengangkat kayuGajah tidak perlu kapital karena bukan nama diri
Dia berangkat kerja hari senin pagi.Dia berangkat kerja hari Senin pagi.Nama hari adalah nama diri waktu, sehingga huruf pertamanya harus kapital.
INI masalah besar!Ini masalah besar.Huruf kapital berfungsi gramatikal, bukan alat mengekspresikan emosi atau teriakan.
Ia membawa: Buku, Pulpen, Dan Pensil.Ia membawa: buku, pulpen, dan pensil.Titik dua tidak selalu menandai awal kalimat, jadi tidak otomatis kapital.
Ia tinggal di Negara Kesatuan yang damai.Ia tinggal di negara kesatuan yang damai.uruf kapital hanya dipakai jika nama resmi lengkap, misalnya
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang juga menjadi problem dalam pemberian huruf besar adalah pada judul berita atau artikel di media massa, mungkin juga jurnal ilmiah. Banyak dari praktisi media itu yang masih bingung menentukan mana yang harus huruf  besar dan mana yang harus huruf kecil.

Tata penulisan huruf kapital pada judul tulisan sebenarnya tidak susah-susah amat. Pada judul tulisan dengan pola capital undercash, patokannya:

Semua kata huruf pertamanya huruf besar. Yang dimaksud kata di sini, seperti kata benda, kata kerja, kata sifat.  Yang ditulis dengan huruf kecil adalah kata tugas, seperti: dan, atau, tetapi,  karena,sehingga, agar,  supaya, yang.Contoh:

  • Mereka Harus Memilih Terjebak Macet Atau Tidak Berlibur (Salah)
  • Mereka Harus Memilih Terjebak Macet atau Tidak Berlibur (benar)

Lalu, yang juga ditulis dengan huruf kecil adalah kata depan seperti di, ke, dari, pada, dalam,   atas, antara, terhadap, tanpa, dengan, untuk. Contoh:

  • Nasib Mereka Antara Hidup Dan Mati (salah)
  • Nasib Mereka antara Hidup dan Mati (benar)

Lalu yang juga ditulis dengan huruf awal kecil adalah kata sandang seperti para,si,sang,sebuah,beberapa.Contoh:

  • Raja Menemui sang Putri
  • Bahasa para Netizen Menyakitkan

Satu lagi yaitu kata keterangan (adverbial) seperti seperti tidak, sangat, terlalu, makin, cukup, kurang, ditulis dengan huruf besar mengikuti kata yang dijelaskan. Contoh:

  • Presiden Sangat Murka Melihat Bencana Banjir
  • Media Digital Terlalu Dominan   

Sobat bahasa, kepatuhan kita pada aturan berbahasa sesungguhnya menunjukkan kecendekiaan kita. Tertib berbahasa menunjukkan kematangan logika kita. Menjaga bahasa, menjaga ketahanan budaya kita. Salam.

Baca juga:

Leave a Comment