SORE INI Riri di rumah saya. Orang tuanya menitipkan bocil ekor kuda itu, karena ada keperluan mendesak. Apalagi, Riri ada pekerjaan rumah bahasa Indonesia mengenai pemakaian huruf kapital atau huruf besar. Oalah, bro, jadi kamu memberi saya tugas untuk membantu belajar anakmu.
Huruf besar bikin ribet, Riri mengeluhkan itu. Huruf besar memaksa kita untuk memilih kata mana yang harus dengan kapital dan mana tidak. Padahal, masih kata Riri, tanpa huruf yang nyebelin itu pun kita masih bisa membaca pesan dari kalimat dengan baik. Benar tidak? Bisa ya, bisa tidak.
Ya, pernyataan Riri bisa dibenarkan jika kebetulan kalimat yang dibacanya sederhana. Misalnya, dia selebrasi ketika berhasil memenangi lomba. Namun, dalam kalimat pendek ini, dia sudah tiba di palu, pembaca harus berpikir maksud kalimat itu apa. Dia sudah tiba lalu dipukul dengan palu atau sudah tiba di kota Palu. Coba dari tadi kalimat itu dibuat seperti ini, dia sudah tiba di Palu. Pembaca tidak akan menafsirkan lagi. Terbukti si kapital memperjelas maksud dari kalimat itu.
Jika Riri tidak senang dengan huruf besar, jangan kecewa. Ternyata awalnya semua huruf adalah kapital. Huruf kecil baru menyusul kemudian. Mari Riri saya dongengi tentang huruf yang gede itu.
Awalnya semua huruf kapital
Pada awalnya semua huruf adalah kapital (majuscules). Riri mencermati dengan serius. Mengapa begitu? Itu berkait dengan penggunaan media untuk menulisnya. Huruf besar lebih kokoh dan simetris ketika ditulis pada media logam dan kayu. Apalagi huruf pada masa itu berbentuk kotak.
Sayangnya, pada masa itu penulisan tidak menggunakan tanda baca ataupun spasi sebagai penanda yang memisahkan satu kata dari kata yang lain, juga tidak ada ekspresi (tanda baca). Misalnya:
- SENATVSPOPVLVSQVEROMANVS
Itu terjadi pada zaman Romawi kuno, sekitar abad 1 sebelum Masehi hingga bab 3 Masehi.

Penggunaan kapital saat itu memang untuk memudahkan dalam penulisan di media. Brown (1990) menulis: Square capitals were generally reserved for display purposes, or for use in monumental epigraphic inscriptions (scriptura monumentalis). Artinya, huruf besar persegi umumnya digunakan untuk tujuan tampilan, atau untuk digunakan dalam prasasti monumental (scriptura monumentalis).
Wah, susah bacanya dong, celetuk Riri. Sudah begitu karena semua huruf besar, mata jadi cepat lelah. Betul, yang dikatakan Riri. Karena itu, pada abad ke-8 ada huruf kecil. Tentu saja ini merupakan revolusi besar pada masa itu. Bayangkan betapa bahagianya ketika sebelumnya semua orang menulis dengan huruf besar tiba-tiba ada huruf jenis baru. Sudah begitu, kedatangan si mungil juga membawa aturan lain. Yaitu: mulai ada spasi antarkata.
Itu terjadi karena orang-orang Romawi pada masa itu merasakan bahwa penulisan dengan huruf yang semuanya besar dan sambung-menyambung susah untuk dimengerti, durasi orang untuk membaca lebih lama. Adanya aturan penulisan baru ini membuat orang mudah menangkap pesan yang disampaikan dalam kalimat dan durasi membacanya pun lebih cepat.
Aturan penulisan itu bernama Carolingian minuscule alias huruf kecil Carolingian. Aturan ini merupakan standar penulisan latin di seluruh Eropa. Sistem penulisan ini merupakan reformasi paling berani dalam bidang penulisan. Carolingian minuscule berlaku pada akhir abad 8 hingga abad 10 pada masa pemerintahan kaisar Charlemagne (768–814).
Reformasi penulisan ini jelas membuka lembaran baru pengetahuan. Namun, jangan dilupakan, yang berjasa untuk kemajuan literasi yang dahsyat ini tidak lain adalah kepala sekolah istana yang bernama Alcuin of York di Aachen. Dia diminta oleh Charlemagne untuk mereformasi pendidikan di istana. Alcuin mendorong penggunaan tulisan yang jelas, seragam, dan mudah dibaca lintas wilayah kekaisaran.

Aturan baru pemakaian huruf kapital
Munculnya Carolingian minuscule ini didorong dengan kemunculan media tulis baru berupa perkamen, kertas, manuskrip tangan. Selain itu, tulisan semakin panjang, sulit mengenali kata. Tentu saja kemunculan aturan penulisan dengan huruf kecil dan adanya spasi antara kata, membuat orang senang membaca, orang cepat memahami apa yang dibaca.
Kemunculan huruf kecil dari Carolingian memang membawa dampak yang besar. Efeknya, semua naskah ditulis dengan huruf kecil. Huruf yang lebih tua (kapital) memang tidak serta menghilang, tapi hanya digunakan pada permulaan tulisan, itu pun dibuat sebagai kaligrafi dan dekoratif tidak mendukung makna apapun. Adapun tubuh tulisan semuanya digantikan oleh si mungil, huruf jenis baru itu.
Perubahan Era Majuscules ke Carolingian Minusscule
| Aspek | Majuscules | Carolingian minuscule | Masa |
| Huruf kapital | Semua tulisan | Dekoratif di awal tulisan | Romawi Kuno (Abad 1 SM-3 M) |
| Huruf Kecil | Tidak ada | dominan | Abad 8-10 pada masa Kaisar Charlemagne |
| Spasi kata | Ada (inovasi penting) | Abad 8-10 pada masa Kaisar Charlemagne |
Perkembangan pesat penyebaran aturan penulisan baru ini juga membawa perubahan besar. Struktur kalimat menjadi lebih jelas, yang sebelumnya perlu usaha lebih keras untuk membaca, dengan begitu pembelajaran pun maju pesat. Namun, ada yang menjadi pertanyaan. Kalau semua ditulis dengan huruf kecil, masa fungsi si kapital hanya untuk dekoratif pembuka wacana.
Namun kesadaran penggunaan si kapital sebagai penanda dimulainya kalimat dan identitas berjalan lambat sesuai dengan perkembangan. Dalam buku Pause and Effect (1991:35-38), Parkes menyatakan, “The use of capital letters to mark syntactic units such as the beginning of sentences developed gradually during the twelfth century.”
Artinya, penggunaan huruf besar sebagai penanda awal kalimat berkembang secara bertahap pada abad 12. Tentunya, selama dua abad sebelumnya pemikiran mengenai pemakaian huruf besar sebagai penanda awal kalimat sudah berlangsung. Selama satu abad berikutnya (abad 13) juga mulai muncul pemakaian huruf besar sebagai identitas diri.
Huruf kapital makin menemukan jati diri
Saya lihat Riri sudah meletakkan kepalanya di meja. Mengantuk. Pantas saja dari tadi diam saja. Saya lanjutkan. Huruf besar makin memiliki makna ketika ditemukan mesin cetak pada abad 15. Kenapa? Karena sudah ada kebutuhan produksi untuk buku-buku. Alhasil, diperlukan aturan penulisan yang seragam, agar mudah dipahami semua orang. Bukan hanya itu, huruf besar juga mulai digunakan secara selektif, bahkan menjadi bagian konvensi editorial penerbitan kala itu.
Karena kebutuhan untuk konsisten dan dipahami semua orang, dari sini kemudian lahir ejaan dan pedoman penulisan. Itu diperlukan guna menjaga kualitas terbitan. Jadi, ejaan dan konsistensi berbahasa bukan semata-mata karena otoritarianisme bahasa, melainkan karena ada kebutuhan industri.
Dari abad ini penulisan huruf besar berkembang mengikuti bahasa modern. Namun, perkembangan teknologi agak mengganggu perkembangan penulisan. Jika pada penulisan di masa lalu sangat memperhatikan penulisan huruf kapital, di era media sosial saat ini penulisan huruf kapital sudah mulai tidak teratur.
Benar, kata Riri, tidak memakai huruf besar juga paham. Ya, tapi itu dalam bentuk lisan tertulis chat di whatapps atau media sosial. Di dua media ini terkadang kita serasa kembali era Carolingian minuscule. Semua ditulis dengan huruf kecil.
Ketidakcermatan menulis di media sosial semoga tidak menular ke penulisan di media yang lebih serius. Apalagi masuk ke ragam tulis lainnya. Huruf kapital lahir agar kita bisa saling memahami dengan apa yang kita tulis. Mengatakan aturan huruf besar bikin ribet, adalah penghinaan terbesar bagi evolusi bahasa yang sangat besar sejak zaman Romawi kuno hingga kini. Salam.
• Tri Adi Sarwoko
Penulis, asesor penulis nonfiksi, dan pengajar bahasa dan komunikasi
Baca juga:
gak nyangka huruf kapital punya sejarah yang panjang