Menulis itu Proses, Tidak Ada yang Instan

Yang bikin geregetan ketika mengajar menulis, bila peserta tidak sabaran. Ingin cepat jadi.  Hei, menulis itu proses, bukan tahu bulat yang digoreng dadakan.  Menulis itu tidak ada yang instan. Kenapa ya, tidak bisa instan.

Tadinya saya amat aktif menulis untuk teve sejak 1996, mulai dari Asep Show di TPI hingga Ngelenong Nyok di TransTV. Lalu untuk sitkom, saya terakhir menulis Naga Bangor di MNC TV pada 2016. Setelah ini, saya fokus mengajar di dua universitas di Bekasi dan Jakarta, sambil tetap bekerja di media hingga 2019 akhir.    

Tentu saja banyak artikel dan naskah untuk televisi yang saya tulis sejak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Selain juga, arsip video program  teve yang menggunakan naskah saya. Tentu saja ini merupakan modal simbolik, menurut Pierre Bourdieu. Modal untuk dipercaya kalau saya mengatakan saya jago menulis.

Selanjutnya saya lebih banyak mengajar menulis dan melakukan pekerjaan penyuntingan dan pendampingan menulis. Mengapa saya mengajar menulis? Karena saya suka menulis, prodi yang menerima saya juga menganggap saya lebih kompeten untuk mengajar menulis. Wah, seperti jagoan banget saya.

Menulis itu proses yang panjang

Ketika memulai kelas menulis, saya paham, yang bakal dihadapi adalah kecurangan. Bayangkan, sumber untuk berbuat curang melimpah. Ketika saya memberi tugas menulis cerita pendek, banyak cerita pendek yang tersimpan di google.  Tapi, saya sudah memagari mereka dengan semboyan:  menulis adalah kejujuran. Kejujuran itu nomor satu, ketidakmampuan untuk menulis bagus itu masalah lain.

Sialnya, hampir 20% peserta kelas menulis saya tidak lulus. Artinya, mereka tidak jujur. Itu memang perjanjian di awal, jika ketahuan melakukan plagiat, langsung tidak lulus.  Agaknya mereka ingin bisa menulis bagus dalam waktu singkat. Jalan pintasnnya menyalin tempel alias copy paste tulisan orang lain. 

Perbuatan salin tempel sungguh sangat tidak beretika. Pertama, itu perbuatan tidak jujur. Kedua, mereka sudah kurang ajar, meminta saya untuk memeriksa tulisan orang lain. Jadi, sepertinya layak tidak meluluskan mereka. Padahal, saya sungguh tidak berharap mereka bisa menulis bagus. Yang terpenting bagi saya, kesungguhan dan kejujuran.

Mengapa? Sejatinya, saya menilai patokannya adalah kemampuan anak itu sendiri. Berdasarkan kemampuan mereka. Peserta yang memang mempunyai pengalaman dalam menulis, tentu saya akan menilai dengan kriteria yang berbeda dengan yang baru pertama kali menulis.

Kutipan dari menulis itu proses, tidak ada yang instan

Setiap mengawali kelas saya selalu mengatakan, menulis sendirilah, jangan menyalin tempel. Tapi, ada mau coba-coba. Bisa jadi mereka beranggapan saya akan terpesona oleh tulisan yang bagus. Bisa jadi mereka menduga saya tidak akan membaca secara teliti. Atau, mereka mengira saya gaptek sehingga tidak bisa mengecek plagiarisme. Mereka banyak yang tertipu.

Mereka salah. Saya adalah seorang editor, saya terbiasa mengoreksi banyak naskah, saya terbiasa menghadapi beragam gaya tulisan. Amat mudah bagi saya mengecek apakah itu tulisan plagiat atau tulisan yang dihasilkan AI. Canggih nian bapak kita nih. Tidak juga.

Di awal perkuliahan saya biasanya meminta mereka menulis dengan tulisan tangan apa yang mereka harapkan dari perkuliahan saya. Nah, ini menjadi referensi bagi saya, apakah tulisan mereka sesuai dengan profil atau tidak. Kalau tulisan memakai bahasa yang terlalu tinggi, atau gaya bertuturnya berbeda, patut dicurigai.

Menulis tidak ada yang instan

Saya membaca tulisan teman-teman muda saya itu dengan teliti. Titik koma dari tulisan mereka  pun saya amati dengan teliti. Saya ingin mereka paham dengan apa yang ditulisnya. Tidak cepat terpesona oleh keindahan tulisan di permukaan.

Menulis bagus dan indah pilihan katanya, tentu saja diperlukan. Namun, bagi sebuah tulisan jauh lebih penting adalah isinya.  Jadi, kalau bisa, tulisan itu kemasannya bagus dan isinya baik.

Teknik Copy The Master

Koreksi dan penulisan ulangDalam copy the master, tulisan diperbaiki berdasarkan koreksi lalu ditulis ulang untuk meningkatkan kualitas.
Menyalin sebagai latihanMenyalin karya penulis idola digunakan sebagai latihan menulis untuk memahami struktur dan alur kalimat.
Meniru gaya bertuturCopy the master membantu penulis pemula mengenali gaya bahasa dan cara berpikir penulis berpengalaman.
Peningkatan kualitas tulisanLatihan menulis berulang melalui copy the master terbukti meningkatkan kualitas tulisan secara bertahap.

Tulisan saya koreksi, mereka menyalin dan memperbaiki apa yang dikoreksi. Ya, mirip-mirip yang dengan metode menulis copy the master. Tulisan mereka terlihat sekali peningkatan kualitasnya dalam beberapa kali koreksi. Untuk yang asal tulis sudah pasti akan kelabakan karena banyak sekali yang harus diperbaiki.

Bagaimana dengan peserta yang bahkan tidak tahu bagaimana menulis kalimat yang bagus? Yang seperti ini biasanya mereka saya minta menulis ulang dengan tulisan tangan para penulis idola mereka.

Cara ini diperlukan agar mereka bisa merasakan bagaimana proses menulis para penulis idolanya. Bahkan, mereka bisa menangkap bagaimana cara bertutur sang penulis. Cara berpikir penulis idola pun bisa ditiru dengan cara menulis ulang karya idolanya itu.  

Dengan cara ini, si pembelajar menulis mulai mengenali bagaimana dan mengapa penulis idola mereka menjadi begitu hebat. Jadi, janganlah beranggapan bahwa menulis itu bisa dilakukan secara instan.

Menulis itu proses, membutuhkan usaha dan tidak asal tulis. Kalau ada pelatihan mampu menulis buku dalam satu hari, kok saya tidak yakin. Sekali lagi, menulis itu proses. Butuh perjalanan pemikiran dan kemampuan mengolah kata.    Jadi, menulis itu tidak ada yang instan. Salam.

Baca juga:
Size Doesn’t Matter: Ketika Ukuran Mengaburkan Pengertian

1 thought on “Menulis itu Proses, Tidak Ada yang Instan”

Leave a Comment